Mudik 2013: Nikmatnya Night Riding, Ketupat, Pasir Laut & Kondangan

Posted: September 12, 2013 in Prides, Touring
Tags: , , ,

Kenapa sih judul artikelnya “Mudik 2013: Nikmatnya Hidangan Night Riding, Ketupat Mertua, Pasir Laut & Kondangan Terjauh”? Singkatnya, mudik 2013 yang saya lakukan kali ini untuk pengetesan penerangan lampu aksesoris dari (luxeon 10w & Cree 15w) sambil berliak-liuk di jalur selatan, menikmati hidangan ketupat tahunan dari mertua, merasakan kembali pasir laut Cilacap dan Kondangan kerabat kantor yang ada di Kuningan. Gitu hehehe…

Selanjutnya saya akan menampilkan cukup banyak foto yang dijepret Si Gio, dengan sedikit editan sotosop, ada yang beda banget sama keadaan aslinya, tapi ada juga yang seadanya  Kenapa demikian? karena saya ingin memberikan nuansa berbeda di Ride Report saya kali ini.

Prologue
Beberapa bulan sebelum lebaran, sudah minta izin sama istri dan orang tua di Cilacap untuk mudik naik Si Venom (lagi), hehe ini yang dinamakannya SIM (Surat Izin Mengaspal). Istri & anak tercinta sudah mudik duluan ke Bandung seminggu sebelumnya, jadi bebas ‘ngebujang’ hehe. Beberapa kendala di kendaraanpun sudah diperbaiki seputar performa, pengereman, kelistrikan dan lainnya. Maka siaplah saya dan Si Venom untuk bertualang, siapkan kopi hitam, kacang kulit, dan tikar Anda, karena saya akan ‘berdongeng’ panjang he-he.

isteri & buah hati tersayang

 

Sabtu Malam, 030813. Depok – Bandung (Nikmatnya sahur pakai ketan+sambel oncomnya Sate Maranggi)
Tadinya mau berangkat Jumat malam, tapi karena sekalian Kopdar Prides Cadas & diajakin galaw jarak pendek + night riding sama Cadaser ke Sentul-Bukit Pelangi-Puncak-Bogor-Depok, yawes gaspol malem2 dari jam 23.30 sampe rumah jam 2an. Gak apa-apalah yang penting bisa ngasih tau dikit2 tentang tips trik night riding ke anggota2 baru. Tidur sebentar terus sahur deh. Siangnya main dulu ke Bengkel The Pulsars Om Cay, buat betulin beberapa part. Karena udah niat buat Night Riding ke Bandung jadi siangnya masih bisa siap2.

Malamnya setelah nyempetin tarawih di musholla dekat rumah, saya siap2 packing dan gear up dan baru selesai jam 22.30. Kunci-kunci rumah dan tidak lupa pasang kunci gembok alarm yang tadi sore sudah dibeli di ACE. Berangkatlah ke arah puncak lewat simpangan Depok. Ternyata ada razia Polantas malam2 di dekat lampu merah, para pemotor setelan pemudik berprotektor seperti sayapun ikut diberhentikan. Minta ditunjukkin STNK, tenang ada kok pak, pajaknya juga up to date. Sang Plokis nanya mau kemana? Mau mudik lah Pak. Lalu, “kok mudik malam-malam gini?” (yaelah suka-suka juga kali… *tepok jidat kucing).

Lanjut riding ke arah Ciawi, sebelumnya galaw mau lewat jalur Bukit Pelangi atau ngga. Karena pertimbangan malam minggu dan musim mudik. Tapi karena dianalisa dulu sepanjang jalan, kayanya ga macet nih Ciawi & Gadog. Dan benar saja, Ciawi lancar pol. Lanjut terus dan bertemu banyak rombongan rider pemudik dan juga beberapa anggota komunitas lain. Sampai Cipanas saya tidak melewatkan kesempatan minggir ke kanan ke Sate Maranggi. Parkir, pesan untuk sendiri dan untuk keluarga di Bandung. Buat yang penasaran, ini penampakan hidangan ala Sate Maranggi – Cipanas, Cianjur.

sate maranggi bertabur bumbu oncom sedap, nikmat ditemani ketan dan teh tawar hangat…

Perut kenyang diisi oleh lezatnya 2 ketan+sambel oncom+5 tusuk sate berlemak , lanjut riding Cianjur-Ciranjang-Rajamandala – Cipatat – Padalarang – Cimahi lancar. Sempat istirahat beberapa kali karena ngantuk cukup melanda. Berhenti di Indomaret sebentar skalian beli permen karet buat ngunyah ngilangin kantuk. Setelah menempuh jarak sekitar 150 km dari Depok maka sampailah di rumah di Cihanjuang pukul 04.00. Pintu pagar sudah dibukakan istri tercinta, tak lupa kecupan tulus mendarat beberapa kali… kangen seminggu ga ketemu Coy hahaha… Masuk ke dalam, semua keluarga sedang santap sahur, langsung sate maranggi dihidangkan… Yummy… Alhamdulillahirobbil Aalamiin…

Kamis, 080813. Bandung – Cilacap (Met Lebaran!!)
Setelah puas liburan beberapa hari di Bandung, siap-siaplah untuk mudik ke Cilacap yang jaraknya sekitar 280 km dari Cimahi. Sudah dijadwalkan bahwa mudik ke sana akan dilaksanakan hari H atau Kamis, 8 Agustus 2013. Pada H-1 sempat dibikin galaw oleh pemerintah yang belum menetapkan hari raya hingga pukul 19.00. Dan pengumumanpun keluar. Hari Lebaran tidak berubah dan tetap pada tanggal 8. Yeaaaay besok jadi Rolling!!

Tidak lupa menempelkan sticker kampanye Prides bikinan saya di box yang kemarin diprint di tempat kaka ipar. He-he biar ada faedahnya sedikit ngasih tau orang2 yang di belakang. Cukup tempel 1-2 di box, sisanya buat temen-temen di Prides Cadas.

Setelah Sholat Ied, sungkem-sungkeman, nyikat ketupat+gulai terenak dari mertua, silaturahmi ke keluarga besar di Sukajadi, bobo sebentar, dan berangkatlah saya pukul 15.30. Isi bensin full dulu agar tenang. Lalu dengan tanpa terburu-buru melintasi kota Bandung yang cukup padat dan sedikit gerimis sore itu. Baru sampai Cicalengka saya menaikkan speed di kisaran 50-80 kmh (ala pulsar). Sempat bikin barbuk dulu sebelum rada ngegas ke timur.

 

Pukul 18.00 menjelang rel kereta api Nagrek macet melanda. Semua kendaraanpun berpelan-pelan ria walau jalanan sudah dijadikan 1 arah ke arah Tasik. Walaupun Si Venom + ridernya berat, ditambah box yang isinya sekitar 10 kg, plus tankbag yang sekitar 5 kg tapi saya masih bisa selap-selip di antara rapatnya mobil dan motor. Melihat macet yang berkepanjangan, Polantas langsung sigap untuk menjadikan jalur jadi 1 arah sampai Limbangan – Garut. Jalananpun lancar jaya, membuat saya mengikuti irama liuk-liuk aspal yang menggoda…amboi nikmatnya!

Sampai di pertigaan ke arah masuk Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya saya minggir ke Indomaret, beli beberapa item skalian istirahat dan makan malam yang sudah disiapkan oleh istri. Sambil buka-buka Google Maps dan facebook, habislah ketupat+opor ayam+kentang goreng yang nikmat. Istirahat setengah jam, langsung gas lagi ke arah Ciamis. Selepas Tasikmalaya, kendaraan pemudik mulai berkurang, jadi bisa lebih leluasa ngegas n libas belokan. Sampai di Banjar, foto-foto & update status dulu di gapura perbatasan hehe. Saya paling senang melintasi aspal selatan Banjar ini, karena halus dan jalurnya lebar. Manjain karet ban deh pokoknya.

Masuk ke Perbatasan Jateng – Jabar sudah sekitar pukul 21.30an. Tak lupa foto dulu replika Pakdhe Diponegoro yang udah bertahun-tahun berpose di atas kuda putihnya.

 

Masuk Jawa Tengah, seperti yang sudah diinfokan teman-teman Prides, bahwa jalanan banyak yang rusak, hati-hati bila jalan malam. Alhamdulillahnya yang saya temui justru hanya jalanan yang bergelombang karena penambalan jalan. Pemerintah sudah sedikit memperbaiki citranya menjelang lebaran rupanya hihi.

Jalan yang gelap, memasuki hutan PTPN, pemukiman yang jarang, kendaraan yang minim, membuat saya sering menyalakan kedua pasang lampu aksesoris saya. Karena dayanya yang cukup besar yaitu Luxeon 20 watt dan Cree 30 watt, ditambah lampu utama 35 watt, dan mungkin sein dan klakson, memaksa saya tidak bisa mantengin terus aksi ini. Karena bisa berakibat aki ngedrop. Dan kasihan juga sih beberapa pengendara di depan sering ngasih dim, jadi kalau sikon tertentu saja saya nyalakan berbarengan hehe…

Berikut contoh penerangan 3 lampu Si Venom

Lampu Halogen + Luxeon 2x10w + Cree 2x15w

Kantuk mulai melanda sekitar pukul 22.45an. Di kegelapan malam di pinggir hutan sekitaran Lumbir – Cilacap ternyata ada tenda istirahat, sekilas saya melihat ternyata punyanya Wingsfood yaitu Top Coffee dan Mi Sedap. Sempat terlewat lalu berbalik arah, parkir, pesan kopi ‘Bongkar’ dan Cup Mi Sedap. Ternyata totalnya hanya 6000 rupiah!! Baek bener Wingsfood dah ah. Udah dapet tempat ngaso yang nyaman, sajiannyapun murah.. Alhamdulillah. Istirahat cukup lama di sini, sekitar 30-45 menit. Lumayan sambil meluruskan kaki dan memejamkan mata. Pamitlah saya ke tuan rumah yang baik-baik, dan kembali menembus kegelapan ke arah Ajibarang – Wangon.

 

Sampai di Wangon, ngantuk lagih…hadeuh…Jam sudah menunjukkan pukul 01.00. Tak lupa SMS ke Bapak di rumah untuk update posisi. Istirahat beberapa menit di atas motor sambil foto-foto dan juga cipratin air ke muka.

 

Lanjut lagi deh ke arah Sampang – Cilacap tempat orang tua. Dan sampailah di rumah pukul 02.00an setelah menempuh -+280 km dengan riding yg banyak ngasonya hehe. Salim sungkem, masukin motor, beres-beres, cuci tangan+kaki, sikat gigi, ganti baju dan daleman, bobo deh sampe puazzz…

Beberapa hari liburan di Sampang – Cilacap. Ini adalah salah satu sisi halaman belakang rumah Bapak di Cilacap…mmmhhh sejuknya semilir angin sore itu 🙂

 

Minggu, 110813. Rumah – Pantai Teluk Penyu. (Nyicipin pasir laut selatannya Cilacap)
Penasaran solo riding ke pelabuhan & pantai Cilacap akhirnya bulatkan tekad ngaspal ke sana. Toh jaraknya cuma 35 kiloan dari rumah. Setelah review Google Map, pakai GPS Takon lalu dengan -+1 jam riding santai, sampailah di Pelabuhan Tanjung Intan – Cilacap. Di kawasan ini tidak terlalu ramai karena memang bukan kawasan wisata utama. Kebetulan jadi enak nich untuk jepret-jepret. Ada beberapa perahu dan kapal, serta tampak hijaunya pulau Nusa Kambangan.

 

Lanjut ke wisata ramainya yaitu Pantai Teluk Penyu. Bayar parkir & masuk cuma kena 6.000. Sudah sesuai perkiraan, bila musim lebaran orang-orang pasti pada plesir salah satunya ke sini. Kontan ribuan orang memadati kawasan ini. Saya cari kawasan yang paling ujung, kemungkinan pasti sepi. Dan benar, saya menemukan spot yang cukup sepi dan menarik setelah melewati kawasan Benteng Pendem. Bermain dan foto-fotolah di sana. Dan tidak lupa kasih barbuk ke istri via Whatsapp hehe.

 

Dari sini masih tampak pula di kejauhan pulau Nusa Kambangan tempat para Napi menginap karena ada halauan pulau inilah kawasan Teluk Penyu tidak terlalu besar ombaknya. Saya tidak main air di pantai karena sudah ada wanti-wanti dari bibi bahwa banyak ubur-ubur lagi naik ke bibir pantai selatan. Mereka menyerang para pengunjung yang berenang. Dan benar saja di berita TV banyak yang kena jadi korban contohnya di kawasan Parang Tritis, Yogyakarta

 

Kawasan indah seperti inipun tak luput jadi sasaran penyampah

 

Di perjalanan pulang, saya melewati jembatan panjang sungai Serayu di kawasan ini. Langsung deh saya foto-foto. Ini fotonya.

Kali Serayu yang sungguh syahdu…

Sungai Serayu merupakan salah satu sungai terbesar di pulau Jawa. 2 tahun lalu waktu mudik pertama pakai pulsar, saya sempat juga foto di jembatan sungai Serayu yang dibangun oleh Belanda di sekitaran Rawalo – Cilacap. Ini foto di jembatan yang di sampingnya. Ini yang versi replika karena jembatan yang aslinya sudah rusak. Bahkan sebagian ada yang rubuh ke dasar sungai karena kurangnya perhatian pemerintah.

Sampai deh di rumah pukul 15.00. Istirahat dan siap-siap untuk perjalanan besok subuh , Alhamdulillah.

Senin, 120813. Cilacap-Kuningan-Bandung (Kondangan Terjauh…)
Setelah dapat kabar dari grup Whatsapp BLife Bikers Community (komunitas motor di kantor) bahwa salah satu anggota yaitu Om Hendra akan mengucap akad hari Senin, maka saya nekad untuk menghadiri acaranya di Kuningan. Sekalian nyobain jalur aspal Ciamis – Cikijing – Kuningan. Bangun jam 3 pagi, tapi masih males2an mandi. Akhirnya Ibu bangun, siapin bekal dan masakin air panas buat mandi… hadeuh baik banget *terharu*. Bapak ikut bangun dan wanti-wanti buat selalu hati-hati perjalanan, jangan lupa untuk cari minuman Kopiko 78C yang katanya terbukti ampuh ngusir ngantuk. Okelah kalok gituh. Tak lupa sebelum berangkat sholat subuh berjamaah dulu sama Bapak & Ibu. Dan berangkatlah sekitar pukul 05.00. Jalanan masih sepi dan dingin (padahal udah double kaos+manset+jaket+rompi). Bertemu beberapa pemudik motor juga yang akan kembali ke barat dari arah Yogya. Tak lupa foto-foto dulu di sekitaran Majenang – Cilacap lalu isi bensin hampir full tank.

Sampai di perbatasan Jateng – Jabar, kembali foto lagi

Sampai di alun-alun Ciamis sekitar pukul 07.30, nanya sama kangbecak & kangojek arah ke Cikijing, ternyata ga jauh dari situ, tinggal ngesot muter belok kiri ke utara deh..

Pertama kali melewati jalur ini dan saya takjub Subhanallah… Sepanjang -+40 km kita akan disuguhkan jalur yang begitu mempesona, aspal mulus, kelokan-kelokan yang menggairahkan, hamparan sawah yang mulai menguning, hijaunya perbukitan, rimbunan pohon bambu, sungai kecil dan tak ketinggalan beberapa pemakaman menghiasi hingga ke arah Kuningan. Semuanya bisa bikin terngeces-ngeces. Ada juga waduk Darma dan kaki Gunung Ceremai yang begitu indah. Kalau saja saya tidak diburu-buru waktu untuk ke acara undangan, saya ingin tiap beberapa ratus meter berhenti lalu motret.  Bagi anda penggemar jalur Puncak, wajib mencicipi jalur ini karena punya ciri khas tersendiri, dan yang paling mencolok adalah ngga banyak warung & rumah di pinggir jalan seperti di Puncak. Berikut foto-fotonya

 

JALURNYA MANTAP BROOOO Ho Ho Ho…!!!!

Kembali menuju alamat resepsi dan telepon-teleponan dengan Om Hendra (Sang Pengantin) di mana posisi tepat hajatannya. Ternyata oo ternyata posisinya lebih ke Kuningan sebelah Timur Laut (cenderung utara). Kalau saja saya lebih teliti cek GMap, akan lebih cepat kalau ambil jalur utara via AJibarang – Bumiayu – Brebes – Cirebon – Kuningan… Tapi ingat dengan jalur Kawali – Cikijing tadi, cukup mengobati penyesalan saya.  Letak hajatan ada di daerah Ciawi Gebang – Kuningan. Menaiki dan menuruni bukit kecil ketemu deh rumah mertuanya Hendra. Salaman, foto-foto, makan-makin, cipika-cipiki, pamit, gear up, gaspol lagi deh.
Kondangan cuman pake kaos (+AP boot pulak)… maap ya om, ga bawa kemeja

Dapat petunjuk kalau pulangnya mau ke Bandung ambil jalur Ciawi Gebang – Jalaksana – Pasar Cilimus – Mandirancan – Rajagaluh – Majalengka – Kadipaten – Sumedang – Tanjung Sari. Okelah cukup andalkan GMap, GPS Takon dan Insting saya untuk telusuri jalur itu. Ternyata dari sana hingga jalan utama Palimanan – Majalengka jalannya agak muter, iya muterin kaki gunung Ciremai dari timur-utara-barat…hadeuh jam di tangan sudah menunjukkan pukul 15.00, matahari sudah condong ke barat… Tidak pernah saya menginginkan sebegitu besarnya agar gunung besar ini ada di sebelah kiri dan matahari di sebelah kanan (barat). Karena lihat di GMaps, bila saya sudah menuju ke arah selatan arah Majalengka kota, maka berakhirlah penderitaan putar-putar ini. Inilah Si Ceremai yang ‘Perkasa’.

Akhirnya setelah sekitar pukul 16.30 jalur lurus ke arah selatan ditemukan! Senangnya akhirnya si gunung ada di kiri saya dan perlahan membelakanginya hihiy. Gaspol terus ke arah Majalengka kota dan Sumedang ditemani sedikit kemacetan dan beberapa pemandangan indah seperti kawasan gunung kapur (seperti kawasan Cipatat Bandung) tapi bukitnya lebih menakjubkan. Kelokan di sore hari dan aspal mulus memacu adrenalin melibas kaki gunung Tampomas, Sumedang, hingga kawasan bukit Cadas Pangeran. Kawasan ini sungguh indah, di mana jalan aspal hanya beberapa meter dr tebing. Sayang karena diburu waktu maghrib dan harus buru-buru sampai rumah di Bandung, saya tidak menyempatkan foto di sini…Sayang Sekali.

Tembus di Tanjung Sari – Jatinangor – Cileunyi – Cibiru ditemani beberapa kemacetan karena titip pertemuan pemudik dari arah Garut dan Sumedang. Terus sampai by pass Soekarno – Hatta lalu Cihanjuang-Cimahi tidak banyak menemui hambatan. Akhirnya sampai rumah sekitar pukul 19.15. Sholat maghrib dan isya pun dijamak takhir. Alhamdulillah selamat dan tidak menemui trouble. Total perjalanan hari ini menempuh 358 km…fyuh…

 

Selasa, 130813. Bandung – Depok (Liburan Telah Usai)
Besok sudah masuk kerja setelah cuti 2 hari ini. Setelah dibekali perbekalan dan sedikit oleh-oleh dari mertua lalu gear up dan siap ngegas jam 11.00. Istri dan anak tercinta baru akan menyusul ke Depok hari Minggu diantar oleh mertua, jadi ngebujang lagi deh pas pulang.

Oke… tadinya saya mengira jalanan Cimahi – Padalarang – Cianjur ngga terlalu ramai dibanding sore hari yang bener-bener Naudzubillah. Tapi ternyata cukup ramai juga oleh pemudik.  Sampai melewati terminal Cianjur saya sempat berhenti untuk ngaso dan menganalisa kira-kira lebih baik jalur Puncak atau jalur Jonggol. Dilihat dari cukup ramainya lalu lintas, saya putuskan lewat Jonggol saja. Jalur Jonggol tidak terlalu ramai dan masih asik untuk ngegas. Sempat ngademin mesin dulu dan jeprat-jeprut.

Kecuali sampai sekitaran Cibarusah, seperti ada pesta rakyat di sungai yang bikin macet cukup panjang dan menjengkelkan. Memang rakyat Indonesia kaya haus sekali akan hiburan dan mengesampingkan ketertiban umum. Banyak motor dan mobil parkir di pinggir jalan secara bersamaan. Lanjut ke Cileungsi – Cibubur – Juanda-Depok – Rumah di Pancoran Mas. Waktu menunjukkan pukul 16.15 dan Alhamdulillah saya masih diberi keselamatan dan kelancaran oleh Allah SWT. Total perjalanan rute ini sekitar 144 km.

Terima kasih tiada henti untuk Penciptaku Allah SWT, istri & anak tercinta, kedua orang tua dan mertua, keluarga yang mendoakan, rekan-rekan Prides yang menemani perjalanan lewat update sosmednya, Hendra Sang Mempelai Pria, Samsung Gio berkamera 2MP dan last but not least Si Venom, pulsarku, lengkap bersama fully loadednya Kappa 42 (-+15kg) dan Riding Gear dari Contin (tankbag -+7kg, hipbag & jacket).

See you soon at my next incredible journey with Venom…

Selamat Idul Fitri 1434H, Mohon Maaf Lahir & Batin yaaa…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s